Selasa, 15 September 2015

Tips and Triks Jualan online


Di era globalisasi, perdagangan bebas semakin ramai dan banyak orang yang beralih profesi menjadi pedagang. Entah itu untuk tujuan eonomi,atau hanya menyalurkan bakat saja. Cara orang menjajakan barang dagangannya pun beraneka ragam dari mulai yang konvensional seperti berjualan di pinggir jalan,jualan di pasar kaget,jualan di tempat keramaian,door to door,dengan sistem arisan sampai jualan online dan bersistem MLM yang kini digandrungi para ibu rumah tangga karena diimingi dengan berbagai bonus dan hadiah.Apalagi sekarang jaman canggih yang ditunjang dengan media sosial yang mempermudah kita untuk berjualan.

Disini saya hanya ingin berbagi ilmu yang sudah saya dapat tentang cara berjualan online yang laris manis dari beberapa kali mengikuti seminar dan dari beberapa buku penunjang. Mudah-mudahan dengan tulisan saya ini dapat membantu para onliner meraup keuntungan dari penjualannya
Sebagai langkah awal berjualan online ,kita harus memiliki sebuah tempat . Tempat usaha ini dapat berupa blog gratisan atau website berbayar. Bagi saya pribadi tidak terlalu penting apakah itu berbayar atau gratisan ,yang penting kita bisa me "manage" tempat usaha kita.

Nah bila kita sudah memiliki tempat usaha maka kita memerlukan pasar untuk menjual produk kita. Apakah pasar kita itu? Diantaranya kita bisa menggunakan medsos seperti FB,Twitter,Instagram,Line,Whatsapp, BB,Path ,dll, terserah pada anda medsos apa yang akan kita gunakan karena masing-masing memiliki calon konsumen yang luar biasa banyaknya. Sebisa mungkin kita masuki semua medsos yang ada untuk kita jejali dengan produk-produk kita.

Setelah tempat usaha dan pasar,selanjutnya kita pikirkan produk apa nih yang kira-kira akan laku di pasaran. Kita harus jeli melihat pangsa pasar,yang sedang popular dikalangan masyarakat,yang masyarakat butuhkan. Bila kita sudah memiliki blog atau website sebaiknya kita menjual barang dalam satu kategori. Misalkan kategori fashion, jadi yang kita pasrkan adalah produk yang berhubungan dengan fashion mulai dari sepatu,,pakaian , asesoris, dan lain. Jangan pernah campur adukkan fashion dengan peralatan dapur misalkan, karena akan terlihat kalau blog atau website kita tidak profesional.

Sebagai langkah awal cukup dulu yaa,nanti kita lanjut di Tips and Triks Jualan online bagian 2

Jumat, 28 Agustus 2015

Encouragement words

komitmen itu lebih keren daripada tampan | dan tanggung jawab itu lebih mantap daripada mapan

kepatuhan itu lebih berarti dari cantik | dan kelemahlembutan itu yang paling menarik

manis itu tentang tingkah laku | dan tampan itu urusan perilaku,

Senin, 17 Agustus 2015

Kaos Anak Muslim Inspiratif Murah


 Kaos Anak Muslim Inspiratif Murah
Material bahan : Cotton Combad 20's
Ukuran            : 2,4,6,8,10
Harga              : ecer Rp. 45.000
                         pembelian 1-3 : Rp 42.500
                         pembelian 4-6 : Rp. 40.000
                         pembelian 7- selanjutnya : Rp 37.500



Kamis, 05 Maret 2015

Seminar Mensukseskan Anak dengan Al Qur'an

  Undangan SEMINAR 
*****
Ikutilah "Seminar Mensukseskan Anak dengan Al Qur'an" yang akan dilaksanakan pada:
Hari : Sabtu
Tanggal : 14 Maret 2015
Pukul : 09.00-15.00 WIB.
Tempat : Gedung Rabbani jl Dipatiukur no 44 Bandung
HTM : Rp. 250.000/orang, Rp 350.000/pasangan
Dengan tema sebagai berikut :
1. Membimbing anak agar bahagia berinteraksi dengan Al Qur'an
Pembicara : Dra. Lilis Komariah ,S. Psi
2. Fenomena kebangkitan Al Qur'an di Eropa
Pembicara : Johannes Van De Ven (Muallaf, Alumnus Universitas Islam Madinah, Hafizh, Hafal 2000 hadis, menguasai Fiqh Lima Madzhab, Menguasai 5 bahasa Asing -Jerman, Inggris, Perancis, Arab, Indonesia-)
3. Workshop bersama Ibu Dra. Lilis Komariah, S.Psi
4. Moderator : H.Nandang Burhanudin, Lc. M.si
Info lebih lanjut hub WA 085721318573, pin 2919c5ab   



DWILOGI MEMOAR AISHA PISARZEWSKA

Kekuatan Sebuah Doa
Oleh : Raidah Athirah
Dalam Dwilogi Memoar Aisha Pisarzewska
*****
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, jawablah bahwa Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS Al-Baqarah: 186)
Ada sebuah kisah yang hendak aku terangkan , tentang kekuatan sebuah doa .Kisah tentang aku , perempuan berkerudung abu-abu yang menangis sesenggukan di lorong Szpital Bielanski .Aku belajar menaruh kepasrahan pada Allah , Tuhan Yang Maha Menyembuhkan . Ini cerita tentang orang tua muda yang baru belajar menjaga amanah.Ini juga pandangan tentang ketegaran seorang ayah muda yang dipanggil dengan sebutan Abu Aisha .
Sziptal Bielanski yang berada di jalan Ciegloska Warsawa menyimpan sepenggal kisah dari perjalanan Aisha Pisarzewska yang terbaring dengan slang infus setelah peristiwa kesalahan diagnosa.Semahir dan secanggih apapun manusia pasti ada salah dan khilaf . Perjalanan ini telah menyadarkan hati dan akal bahwa Allah , Tuhan Yang Maha Kuat .
Inilah peristiwa yang menyentil sampai ke akar keyakinan , kepada siapa aku bergantung ? Bukankah selama ini yakinku bergantung pada mesin -mesin canggih , pada keahlian dokter sampai-sampai mulutku jarang melafazkan doa.
Pikiranku berusaha mencari pembenaran bahwasanya aku sibuk mengurus rumah tanggaku sendiri , peristiwa ini terjadi karena aku terlalu penakut mengemukakan rasaku sebagai seorang ibu di hadapan dokter asing .Sebuah rasa yakin bahwa dokter ini lebih paham dariku.Rasaku yang hanya seorang ibu muda .
Seharusnya aku paham bahwa kehidupan seumpama kapal yang berlayar di laut .Ada masanya gelombang datang , ada masanya air laut begitu tenang.Betapa beruntung hati yang senantiasa bersyukur dalam masa apapun selalu mengingat Allah .Inilah rasa yang datang padaku bahwa daun-daun maple yang gugur ke tanah telah mengajarkanku pada satu kekuatan yang harus kupegang kuat , doa.
Putriku Aisha Pisarzewska kala itu baru berumur tujuh bulan ketika suamiku menggendongnya dalam keadaan tubuh yang kering tinggal dibungkus tulang . Aku berjalan dengan kesedihan yang mendalam .Entah pada siapa aku harus berbagi rasa .Aku hanya menatap punggung suamiku yang perlahan-lahan menghilang mengikuti seorang perawat ke ruang khusus pemeriksaan .Dan seketika ketakutan mendera.Sebuah rasa tak ingin kehilangan . Sebuah rasa yang manusiawi bagi orang tua muda sepertiku .Terlebih , aku tak mengenal siapa-siapa di negeri ini selain suamiku dan keluarganya.
Aku duduk termenung di lorong Szpital Bielanski .Terhempas dalam-dalam .Aku tak ingin menangis tapi air mataku sudah tak bisa kutahan .Dan perlahan cermin jiwaku muncul bahwa di sisi mana ia berada ? Di sisi sabar dan syukur ataukah jiwa rapuh yang meragukan pertolongan Allah Yang Maha Menjaga ?
Bersambung .....













Kamis, 29 Januari 2015

PENGERTIAN HAID, NIFAS, DAN ISTIHADHAH

PENGERTIAN HAID, NIFAS, DAN ISTIHADHAH

Pembahasan soal darah pada wanita yaitu haid, nifas, dan istihadhah adalah pembahasan yang paling sering dipertanyakan oleh kaum wanita. Dan pembahasan ini juga merupakan salah satu bahasan yang tersulit dalam masalah fiqih, sehingga banyak yang keliru  dalam memahaminya. Bahkan meski pembahasannya telah berulang-ulang kali disampaikan, masih banyak wanita Muslimah yang belum memahami kaidah dan perbedaan dari ketiga darah ini. Mungkin ini dikarenakan darah tersebut keluar dari jalur yang sama namun pada setiap wanita tentulah keadaannya tidak selalu sama, dan berbeda pula hukum dan penanganannya.
HAID
Haidh atau haid (dalam ejaan bahasa Indonesia) adalah darah yang keluar dari rahim seorang wanita pada waktu-waktu tertentu yang bukan karena disebabkan oleh suatu penyakit atau karena adanya proses persalinan, dimana keluarnya darah itu merupakan sunnatullah yang telah ditetapkan oleh Allah kepada seorang wanita. Sifat darah ini berwarna merah kehitaman yang kental, keluar dalam jangka waktu tertentu, bersifat panas, dan memiliki bau yang khas atau tidak sedap.
Haid adalah sesuatu yang normal terjadi pada seorang wanita, dan pada setiap wanita kebiasaannya pun berbeda-beda. Ada yang ketika keluar haid ini disertai dengan rasa sakit pada bagian pinggul, namun ada yang tidak merasakan sakit. Ada yang lama haidnya 3 hari, ada pula yang lebih dari 10 hari. Ada yang ketika keluar didahului dengan lendir kuning kecoklatan, ada pula yang langsung berupa darah merah yang kental. Dan pada setiap kondisi inilah yang harus dikenali oleh setiap wanita, karena dengan mengenali masa dan karakteristik darah haid inilah akar dimana seorang wanita dapat membedakannya dengan darah-darah lain yang keluar kemudian.
Wanita yang haid tidak dibolehkan untuk shalat, puasa, thawaf, menyentuh mushaf, dan berhubungan intim dengan suami pada kemaluannya. Namun ia diperbolehkan membaca Al-Qur’an dengan tanpa menyentuh mushaf langsung (boleh dengan pembatas atau dengan menggunakan media elektronik seperti komputer, ponsel, ipad, dll), berdzikir, dan boleh melayani atau bermesraan dengan suaminya kecuali pada kemaluannya.
Allah Ta’ala berfirman:
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ
“Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ
“Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” (HR. Al-Bukhari No. 321 dan Muslim No. 335)
 Batasan Haid :
  • Menurut Ulama Syafi’iyyah batas minimal masa haid adalah sehari semalam, dan batas maksimalnya adalah 15 hari. Jika lebih dari 15 hari maka darah itu darah Istihadhah dan wajib bagi wanita tersebut untuk mandi dan shalat. 
  • Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa mengatakan bahwa tidak ada batasan yang pasti mengenai minimal dan maksimal masa haid itu. Dan pendapat inilah yang paling kuat dan paling masuk akal, dan disepakati oleh sebagian besar ulama, termasuk juga Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga mengambil pendapat ini. Dalil tidak adanya batasan minimal dan maksimal masa haid :
Firman Allah Ta’ala.
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ ۖ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ ۖ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطْهُرْنَ
“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah : “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekatkan mereka, sebelum mereka suci…” [QS. Al-Baqarah : 222]
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memberikan petunjuk tentang masa haid itu berakhir setelah suci, yakni setelah kering dan terhentinya darah tersebut. Bukan tergantung pada jumlah hari tertentu. Sehingga yang dijadikan dasar hukum atau patokannya adalah keberadaan darah haid itu sendiri. Jika ada darah dan sifatnya dalah darah haid, maka berlaku hukum haid. Namun jika tidak dijumpai darah, atau sifatnya bukanlah darah haid, maka tidak berlaku hukum haid padanya. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menambahkan bahwa sekiranya memang ada batasan hari tertentu dalam masa haid, tentulah ada nash syar’i dari Al-Qur’an dan Sunnah yang menjelaskan tentang hal ini.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan : “Pada prinsipnya, setiap darah yang keluar dari rahim adalah haid. Kecuali jika ada bukti yang menunjukkan bahwa darah itu istihadhah.”
Berhentinya haid :
Indikator selesainya masa haid adalah dengan adanya gumpalan atau lendir putih (seperti keputihan) yang keluar dari jalan rahim. Namun, bila tidak menjumpai adanya lendir putih ini, maka bisa dengan mengeceknya menggunakan kapas putih yang dimasukkan ke dalam vagina. Jika kapas itu tidak terdapat bercak sedikit pun, dan benar-benar bersih, maka wajib mandi dan shalat.
Sebagaimana disebutkan bahwa dahulu para wanita mendatangi Aisyah radhiyallahu ‘anha dengan menunjukkan kapas yang terdapat cairan kuning, dan kemudian Aisyah mengatakan :
لاَ تَعْجَلْنَ حَتَّى تَرَيْنَ القَصَّةَ البَيْضَاءَ
“Janganlah kalian terburu-buru sampai kalian melihat gumpalan putih.” (Atsar ini terdapat dalam Shahih Bukhari).
NIFAS
Nifas adalah darah yang keluar dari rahim wanita setelah seorang wanita melahirkan. Darah ini tentu saja paling mudah untuk dikenali, karena penyebabnya sudah pasti, yaitu karena adanya proses persalinan. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa darah nifas itu adalah darah yang keluar karena persalinan, baik itu bersamaan dengan proses persalinan ataupun sebelum dan sesudah persalinan tersebut yang umumnya disertai rasa sakit. Pendapat ini senada dengan pendapat Imam Ibnu Taimiyah yang mengemukakan bahwa darah yang keluar dengan rasa sakit dan disertai oleh proses persalinan adalah darah nifas, sedangkan bila tidak ada proses persalinan, maka itu bukan nifas.
Batasan nifas : 
Tidak ada batas minimal masa nifas, jika kurang dari 40 hari darah tersebut berhenti maka seorang wanita wajib mandi dan bersuci, kemudian shalat dan dihalalkan atasnya apa-apa yang dihalalkan bagi wanita yang suci. Adapun batasan maksimalnya, para ulama berbeda pendapat tentangnya.
  • Ulama Syafi’iyyah mayoritas berpendapat bahwa umumnya masa nifas adalah 40 hari sesuai dengan kebiasaan wanita pada umumnya, namun batas maksimalnya adalah 60 hari. 
  • Mayoritas Sahabat seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Aisyah, Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhum dan para Ulama seperti Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad, At-Tirmizi, Ibnu Taimiyah rahimahumullah bersepakat bahwa batas maksimal keluarnya darah nifas adalah 40 hari, berdasarkan hadits Ummu Salamah dia berkata, “Para wanita yang nifas di zaman Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, mereka duduk (tidak shalat) setelah nifas mereka selama 40 hari atau 40 malam.” (HR. Abu Daud no. 307, At-Tirmizi no. 139 dan Ibnu Majah no. 648). Hadits ini diperselisihkan derajat kehasanannya. Namun, Syaikh Albani rahimahullah menilai hadits ini Hasan Shahih. Wallahu a’lam.
  • Ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa tidak ada batasan maksimal masa nifas, bahkan jika lebih dari 50 atau 60 hari pun masih dihukumi nifas. Namun, pendapat ini tidak masyhur dan tidak didasari oleh dalil yang shahih dan jelas.
Wanita yang nifas juga tidak boleh melakukan hal-hal yang dilakukan oleh wanita haid, yaitu tidak boleh shalat, puasa, thawaf, menyentuh mushaf, dan berhubungan intim dengan suaminya pada kemaluannya. Namun ia juga diperbolehkan membaca Al-Qur’an dengan tanpa menyentuh mushaf langsung (boleh dengan pembatas atau dengan menggunakan media elektronik seperti komputer, ponsel, ipad, dll), berdzikir, dan boleh melayani atau bermesraan dengan suaminya kecuali pada kemaluannya.
Tidak banyak catatan yang membahas perbedaan sifat darah nifas dengan darah haid. Namun, berdasarkan pengalaman dan pengakuan beberapa responden, umumnya darah nifas ini lebih banyak dan lebih deras keluarnya daripada darah haid, warnanya tidak terlalu hitam, kekentalan hampir sama dengan darah haid, namun baunya lebih kuat daripada darah haid.

ISTIHADHAH
Istihadhah adalah darah yang keluar di luar kebiasaan, yaitu tidak pada masa haid dan bukan pula karena melahirkan, dan umumnya darah ini keluar ketika sakit, sehingga sering disebut sebagai darah penyakit. Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim mengatakan bahwa istihadhah adalah darah yang mengalir dari kemaluan wanita yang bukan pada waktunya dan keluarnya dari urat.
Sifat darah istihadhah ini umumnya berwarna merah segar seperti darah pada umumnya, encer, dan tidak berbau. Darah ini tidak diketahui batasannya, dan ia hanya akan berhenti setelah keadaan normal atau darahnya mengering.
Wanita yang mengalami istihadhah ini dihukumi sama seperti wanita suci, sehingga ia tetap harus shalat, puasa, dan boleh berhubungan intim dengan suami.
Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha :
 جَاءَتَ فاَطِمَةُ بِنْتُ اَبِى حُبَيْشٍ اِلَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَلَتْ ياَرَسُوْلُ اللهِ اِنِّى امْرَاَةٌ اُسْتَحَاضُ فَلاَ اَطْهُرُ، اَفَاَدَعُ الصَّلاَةَ؟ فَقَالَ ياَرَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَ، اِنَّمَا ذَلِكَ عِرْقٌ وَلَيْسَ بِالْحَيْضَةِ فَاِذَااَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَاتْرُكِى الصَّلاَةَ، فَاِذَا ذَهَبَ قَدْرُهَا فاَغْسِلِى عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّى
Fatimah binti Abi Hubaisy telah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang wania yang mengalami istihadhah, sehingga aku tidak bisa suci. Haruskah aku meninggalkan shalat?” Maka jawab Rasulullah SAW: “Tidak, sesungguhnya itu (berasal dari) sebuah otot, dan bukan haid. Jadi, apabila haid itu datang, maka tinggalkanlah shalat. Lalu apabila ukuran waktunya telah habis, maka cucilah darah dari tubuhmu lalu shalatlah.”
Wallahu a’lam. 
Sumber / Maraji’ :
  • Fiqhus Sunnah lin Nisaa’ – Kamal bin As-Sayyid Salim
  • Fatawa Al-Mar’ah Muslimah
  • Majmu’ Fatawa Arkanil Islam – Syaikh Ibnu Utsaimin
  • Ahkamuth Thaharah ‘inda An-Nisaa’ ‘ala Madzhab Imam Asy-Syafi’i – Munir bin Husain

Minggu, 25 Januari 2015

Musibah Membawa Berkah

Musibah Membawa Berkah

Rasulullah Saw. menjelaskan, :

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ اْلمُسْلِمَ اِلاَّ كَفَّرَ اللهُ عَنْهُ بِهَا حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُّهَا. البخارى و مسلم


Dari ‘Aisyah RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu mushibah menimpa kepada orang muslim, kecuali dengannya Allah menghapus dosa-dosanya, hingga duri yang mengenainya”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Insya Allah, dampak dari rasa kecewa, bimbang, dan sedih (bila dihadapi dengan sabar dan syukur) akan mendatangkan berkah ampunan-Nya.

Dunia Tak Kan Abadi

Hakikat dunia adalah fana, rusak, tidak abadi, dan sementara. Kesenangan yang ada padanya sangatlah sedikit serta silih berganti antara rasa suka dan duka, menangis dan tertawa, lahir dan wafat. Perhatikan firman-Nya berikut ini.

“…Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)…” (Q.S. Ali Imran [3]: 140)
Orientasi Akhirat Menjadikan Kaya Hati

Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang menjadikan negeri akhirat sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya dan Dia akan mengumpulkan segala kekuatannya sementara dunia ini akan datang mengejarnya dengan penuh ketundukan, dan barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai orientasinya maka Allah akan menjadikan kefakiran di hadapannya dan mencerai-beraikan kekuatannya dan dunia tidak datang kepadanya kecuali apa yang telah ditetapkan baginya.” (H.R. Tirmidzi)

Allah Sumber Ketenangan Hakiki 

Karenanya, hidupkan hati dengan mengkaji dan mengamalkan Al-Quran, selalu berdoa, berzikir setiap saat kepada Allah Swt., jangan biarkan pikiran kosong berangan-angan.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ



“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 186)
Layak dijadikan referensi salah satu doa Nabi Musa a.s. dalam menghadapi ujian berikut ini. “…Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku.” (Q.S. Thaha [20]: 25)

Salah satu fungsi Al-Quran adalah menenangkan hati orang mukmin. Allah Swt. 
“Dan Kami turunkan dari Al-Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman…” (Q.S. Al-Israa’ [17]: 82)

Sebagai penutup, saya turut mendokan semoga ukhti penanya meraih kebaikan dari musibah ini. Ingatlah, sesungguhnya hanya dengan mengingat-Nya hati manusia akan selalu tenteram sebagaimana firman-Nya berikut ini.

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ


“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 28)